Kamis, 24 Mei 2018

REORIENTASI PENDIDIKAN


Corak pendidikan mestinya mampu merespon perkembangan dan kemajuan yang ada. Modernitas telah membawa umat manusia ke arah kemajuan keilmuan dan peradaban. Namun bukan berarti tanpa kekurangan. Beberapa prinsip penting dalam pengembangan pendidikan Islam ke depan adalah antara lain;
1. Pendidikan Islam mesti berdasarkan kaidah-kaidah keagamaan/religius (hifz al-din). Islam tetap menjadi landasan moral-normatif bagi pengembangan masyarakat ke depan, demikian juga di bidang pendidikan. Keinginan untuk maju, tidak mesti tercerabut dari akar-akar agama.
2. Pendidikan Islam mesti berwawasan kemanusiaan/humanis (hifz al-nafs). Penegakan Hak Azazi Manusia yang telah mengalami kemajuan berarti bila dibandingkan dengan era-era sebelumnya dapat dilanjutkan dengan memadukan dengan norma agama. Humanisme-Antroposentris menciptakan manusia terasing dari Tuhan, juga terasing dari hakikat dirinya. Maka pendidikan Islam dapat mengembangkan paradigma humanisme religius (istilah Abdurrahman), humanisme transendental (istilah Kutowijoyo dan Amin Rais), Humanisme Islam (istilah Samsu Nizar) atau lainnya yang menggambarkan perpaduan nilai-nilai kemanusiaan dan Ilahiyah.
3. Pendidikan Islam mesti rasional dan berorientasi kepada pengembangan berbagai kecerdasan manusia (hifz al-‘aql). Dalam hal ini, pengembangan hampir seluruh jenis keilmuan empirik dapat digesah, tanpa harus alergi. Pendidikan Islam tidak perlu merasa asing, terjajah atau terhinakan karena mengembangan keilmuan yang dewasa ini telah berkembang di Barat dan belahan dunia lainnya.
4. Pendidikan Islam mesti memelihara kepentingan keluarga, masyarakat dan kebangsaan atau berwawasan sosial keummatan (hifz al-nasl dan hifz al-umat). Sosialisme an sich terbukti tidak mampu menghantarkan umat manusia ke arah yang lebih baik. Pendidikan Islam ke depan mesti mengembangan sosialisme Islam.
5. Pendidikan Islam mesti berwawasan ekonomi dan pengembangan kesejahteraan umat (hifz al-mal).  Dimensi ekonomi terkesan ditinggalkan di dunia pendidikan Islam klasik. Melahirkan manusia yang cerdas secara ekonomik atau finansial (istilah Robert T. Kiyosaki) patut dipertimbangkan, bila tidak ingin pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang terbelakang di bidang ekonomi. Pengangguran terdidik agaknya merupakan akibat wawasan ekonomik dalam pendidikan tidak dikembangkan.
6. Pendidikan Islam mesti berwawasan pragmatis guna mewujudkan kemaslahatan individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan umat (jalb al-mashalih).
7. Pendidikan Islam mesti solutif guna merespon, mengantisipasi dan menyelesaikan persoalan individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan umat yang meliputi persoalan kekinian dan masa depan (dar al-mafasid).

Penulis : Afrizal Ahmad Al-Syafi'i Al-Kampari & Amrizal Ahmad


Tidak ada komentar:

Posting Komentar